Sabtu, 22 Mei 2010

Sayap Putih Izrail

Assalamu’alaikum....... Sapaan ini aku layangkan untukmu wahai mahluk Allah yang senantiasa berdiri salat kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Untukmu, yang berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah. Untukmu pula, yang membaca Al-Quran, melaksanakan salat, menunaikan zakat dan memberikan pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Sesungguhnya kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Bukankah kamu mengenal kalam Allah ini, Al-Muzzammil ayat kedua puluh?

Selanjutnya aku akan bercerita padamu tentang amalan seorang mahluk Allah; yang telah dikabarkan Raqib dan Atid kepadaku. Apakah ia akan masuk surga ataukah neraka, aku tidak tahu. Yang hanya akan aku ceritakan adalah tentang bagaimana rupaku ketika mendatanginya.

Wahai mahluk Allah yang dimuliakan Allah sehingga aku dan para malaikat bersujud padamu, pernahkah kamu mendengar, atau sedikitnya mengetahui bahwa aku akan mendatangimu dengan tiba-tiba? Bukankah kematian itu dekat sekali dengan urat nadimu? Pernahkah kamu membayangkan, bagaimana wujudku ketika mendatangimu? Apakah aku adalah seseorang yang akan kamu sambut dengan baik, dengan wajah penuh kerinduan. Rindu akan surga Allah dan pertemuan dengannya? Atau malah sebaliknya? Aku adalah seseorang yang berwujud menyeramkan, dengan aura pembunuh dan keputusasaan, dan kamu menjerit tidak ingin nyawamu kuambil karena kau terlalu mencintai dunia. Menuhankan nafsumu, dan kamu gelisah dengan amalan yang akan kamu pertanggungjawabkan pada Allah Ta’ala? Aku adalah sebagaimana yang divisualkan dengan jubah hitam dan kerudungnya dengan rupa menyeramkan dan membawa pisau berbentuk sabit? Seperti itukah?

Hei, bukankah aku akan bercerita padamu? Ya, ya, ya. Beginilah ceritanya…

“Faiza!”

Gadis berjilbab lebar itu menoleh. Ia menyunggingkan senyum kepada teman perempuannya. Teman perempuan Faiza segera berlari menghampirinya.

“Za, aku ingin bercerita padamu tentang sesuatu. Boleh?” tanyanya.

Faiza tersenyum lagi. Ia mencubit pipi teman perempuannya itu dengan gemas.

“Tentu saja boleh.” kata Faiza seraya mencubit pipi temannya. “ Apa sih, yang tidak bisa aku berikan untuk sahabatku ini? Aku akan selalu menyenangkan hatimu dan memenuhi semua harapanmu, sahabatku!”

Teman perempuannya itu tertawa. Tapi hanya beberapa detik. Detik berikutnya, ia kembali digelayuti mendung. Wajahnya berubah kelam.

“Faiza, aku ingin bercerita padamu tentang…eh, ini tentang…”

“Katakanlah!” kata Faiza tulus.

“Tentang Ikra…” wajahnya ia tundukkan dalam-dalam.

Faiza menghela napas.

“Kamu belum merelakannya?” kata Faiza dengan nada tajam.

“Bukan seperti itu! Aku bukannya tidak rela! Tapi…”

“Lantas?”

Teman perempuan Faiza tidak mengatakan sepatah katapun.

“Bukankah semua nyawa manusia itu milik Allah? Harta, jiwa, dan segala sesuatunya merupakan titipan.”

“Faiza,” panggil teman perempuan Faiza dengan lirih. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis.

Faiza meletakkan tangan di atas pundak teman perempuannya itu.

“Ada beberapa orang yang sangat menantikan pertemuan dengan Rabb. Salah satunya mungkin adalah Ikra. Bukankah ia meninggal dengan terhormat? Dengan Allah Ta’ala sebagai Rabbnya, dan Islam sebagai agamanya? Bukankah Ikra adalah seorang hamba Allah yang senantiasa memperjuangakan panji-panji Islam? Bukankah Ikra adalah orang yang senantiasa mengambil tamsil dari Rasulnya dan mengamalkan ajarannya? Bukankah seperti itu adanya?”

Teman perempuan Faiza itu tersenyum dengan gugup.

“Aku yakin, kakakmu dijemput Izrail dengan sayap putihnya….”

Nah, kau lihat? Ia berprasangka baik terhadapku, bukan? Tapi tahukah kamu apa yang membuat ia bisa seperti itu?

“Ummi, jangan menangis lagi. Tahukah ummi, derai air mata Ummi lebih menyakitiku dari pada jarum-jarum itu?” kata Faiza.

“Faiza, anakku. Mengapa bukan ummi saja yang menjalani semua ini, Nak. Ummi saja, jangan kamu…” kata Ummi. Ia menggenggam tangan Faiza dengan erat. Gulir bening air matanya jatuh membasahi tangan putih nan kurus itu.

“Ummi, “ panggil Faiza. “Ummi harus percaya padaku. Aku rela Allah menetapkan ketetapan ini untukku, bahwa aku harus menjalani kemoterapi ini. Bukankah usaha menuju kesembuhan itu adalah ibadah, Ummi? Bukankah begitu?”

“Faiza,” panggil Ummi Faiza dengan nada getir.

“Andaikata aku dijemput Izrail, aku pasti akan dijemput dengan sayap putihnya, Bunda. Pasti…”

Seulas senyum kembali menghiasi wajahnya. Wajah yang senantiasa dipenuhi cahaya…

Teman perempuan Faiza kini hanya mampu menatap Faiza dari balik jendela pintu kamar ruang kemoterapi. Ia meraa bersalah karena tidak mampu menghibur seperti halnya Faiza menghiburnya. Teman perempuan Faiza itu malah memperlihatkan wajah terluka ketika Faiza mengabarkan hal ini.

“Kenapa Faiza? Kenapa? Dulu kakakku, sekarang nyawa sahabatku! Kenapa bukan aku saja, Faiza! Kenapa!” jerit teman perempuan Faiza tempo hari.

Tahu apa yang dikatakan Faiza selanjutnya?

“Diriwayatkan dari Thabrani, cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.”

Teman perempuan Faiza memandang Faiza.

“Benarkah Izrail akan menjemputmu dengan sayap putihnya?”

“Insya Allah.” guman Faiza.

“Tapi, Faiza. Kenapa bukan aku saja? Aku sudah cukup lelah, Faiza..”

Faiza kembali tersenyum. “Diriwayatkan dari Bukhari, janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata, ‘Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku.’ , Ya?”

“Faiza, kenapa orang-orang baik cepat pergi? Apakah aku bukan orang baik?”

Faiza hanya tersenyum menanggapi perkataan yang dilontarkan temannya itu. Kini, senyum Faiza pada Umminya, membuat hati teman perempuan Faiza itu bimbang.

Bimbang adalah satu bentuk kepedulian, bukan? Teman perempuan Faiza itu kini mengayunkan langkah kakinua, mendorong pintu yang membatasinya dengan Faiza, dan masuk ruangan dimana Faiza menjalani kemoterapi untuk penyakitnya psedomonas. Ia akan menemani Faiza jihad melawan penyakit ganasnya itu.

“Kamu siapa?”

Gadis itu terheran-heran menatapku.

“Tidakkah kamu melihat sayapku?”

Gadis itu kini memandang sayapku.

“Putih?”

“Ya. Putih.” kataku. “Tidakkah kamu mengenalku?”

“Kamu…” gadis itu tersenyum gugup. “Bukan Izrail, kan? Ehm, maksud saya, kamu..”

“Benarkah itu kamu? Eh, bagaimana seharusnya aku memanggilmu? Anda? Atau…”

“Aku datang untuk menjemputmu.” kataku. Biasanya kata-kata ini merupakan hal yang paling ditakuti oleh seluruh umat manusia, tidak terkecuali orang yang beriman sekalipun.

“Sudah waktunya?”

“Ya. Sudah waktunya, wahai jiwa yang tenang!”

Ia terpana beberapa saat.

“Kamu menjemputku dengan sayap putih?”

“Ya.”

“Tapi sayap putih itu milik…”

“Milik semua yang mempercayainya..” potongku cepat.

“Sesuai amalanku?”

“Ya.”

“Bisakah kau tunggu aku sebentar? Aku ingin mengucapkan ikrarku pada Tuhanku?”

“Silahkan.”

Lalu kalimat itu meluncur pelan seiring roh yang tercabut dari tubuhnya…

“Kenapa aku tidak merasakan sakit?”

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Kemudian, aku mengerti mengapa dia aku datangi dengan sayap putihku. Karena beberapa saat kemudian, dia berbisik padaku.

“Sesunggunya kami sangat gembira dengan hari yang telah kita kurangi. Setiap hari semakin dekat dengan kematian (ajal).”

Sungguh aku menyukai hamba Allah ini. Faiza Faturrahman.

(Oleh seorang ukhti di Bandung, jazakillah.. :D)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar