Selasa, 23 November 2010

Part I

Residen Bedah

Senin, 1 November 2010

Setelah medapatkan kabar dari Puket I sekaligus penanggung jawab relawan Merapi NWU, saya langsung memberi kabar ke teman” tentang rencana keberangkatan relawan Merapi Part II siang ini. Untungnya hari ini kami ada jadwal pemotretan J di kampus sehingga memudahkan unutuk konfirmasi calon relawan. Alhamdulillah ada 11 orang yang menyatakan bersedia untuk ikut bersama rombongan menuju daerah Bencana. Relawan Part II ini nantinya tidak akan ditempatkan di lapangan melainkan di RSUD Muntilan. Kami akan bertugas layaknya perawat dengan sistem shift.

Persiapan selesai dan pada pukul 13.10 WIB kami bertolak dari kampus tercinta dengan bus menuju daerah bencana Merapi tepatnya di RSUD Muntilan. Sebelumya kami mendapat briefing dari pihak kampus yag diwakili oleh Puket III. And go…Muntilan We’re coming..Bismillah..

1. Sukarno S.Kep., Ns.

2. Asnat Serly Bolang S.Kep., Ns.

3. Ayoen Nourina Ungtsa S.Kep., Ns.

4. Burhanudin S.Kep., Ns.

5. Eka Retno Sari S.Kep., Ns.

6. Johan Prayoga S.Kep.

7. Mufrodi S.Kep., Ns.

8. Nanda Dian Natalia S.Kep., Ns.

9. Prasasti Asih Utami S.Kep., Ns.

10. Sholihul Huda S.Kep., Ns.

11. Siti Amnah S.Kep., Ns.

12. Winda Diana Sari S.Kep., Ns.

Sepanjang perjalanan, kami memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Karena memang nantinya sesampai di rumah sakit kami harus langsung berdinas. Walaupun saya tahu dalam benak teman” terbayang nantinya akan bagaimana di daerah bencana. Menuju ke lokasi, kami telah disuguhi dengan beberapa camp-camp pengungsian di pinggir” jalan. Hmm..miris memang.. Pukul 15.30 kami tiba di RSUD Muntilan. Tak nampak keramaian yang sudah kami bayangkan sebelumya. Mendung, disertai rintik tipis hujan abu. Di depan UGD terdapat sebuah tenda putih panjang yang kira” ada 20 orang pengungsi yang berdiam disana. Kedatangan kami disambut oleh beberapa perawat yang nampak sudah akrab dengan Pakar (panggilan kesayangan teman” kepada Pak Karno, dosen sekaligus koordinator rombongan), yah merekalah senior kami dari program B. Seluruh brankart UGD sudah berpenghuni, tampak beberapa pasien yang sudah mendapatkan perawatan sedang menunggu antrian ruangan di pinggir” koridor UGD. Terdengan suara erangan kesakitan dari seorang pasien yang masih mendapat tindakan di ruang bedah minor. Memang pemandangan yang biasa untuk kelas UGD, yang membuat luar biasa adalah sorotan kamera para kuli tinta yang sedang menunggui proses kelahiran bayi dari seorang penghuni camp pengungsian yang entah dimana, and once again its about “Merapi yang sedang Vomitus” we call it.

Setelah dilakukan serah terima dari pihak rumah sakit kami dipersilahkan menuju tempat istirahat kami selama 4 hari kedepan. Wow..Isn’t like my imagine,,kita diberikan tempat berupa ruangan residen bedah tepat diatas UGD, dengan tiga bed satu almari dan sebuah kamar mandi dalam, serta televisi. Its too lux bwat kelas relawan seperti kami, disaat yang lain harus berada di pengungsian. But it’s okay..smoga bisa lebih memotivasi kami untuk berbuat banyak bagi mereka. Pembagian jadwal dinas pun telah ditetapkan, and de first couple is Ayoen and Pakar in Melati Ward.

Shift dinas kami hari ini beda dari biasanya, kami mulai dinas pukul 19.00 hingga pukul 01.00. Setelah mengisi perut dengan nasi tongseng kambing dari rumah sakit, kami memulai untuk persiapan dinas, bagi yang dapat shift pertama termasuk saya. Sedangkan yang lain bersiap hybernasi menumpuk tenaga untuk jaga mulai jam 01.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB keesokan paginya.

Saya bersama pakar memulai berdinas malam mini. Saat kami datang semua program tindakan sudah dilakukan. “Kemudian apa yang bisa saya bantu disini bu?” kata Pakar mengawali pembicaraan, setelah memperkenalkan diri dengan perawat ruangan. “Sementara belum ada pak, kita tinggal pelayanan pasien saja.” Kata seorang perawat senior menjawab. Saya langsung bergabung dengan teman” praktikan di bagian belakang, orientasi ruangan berikut pasien. Malam ini pasien di ruang melati berjumlah 31 pasien dengan kapasitas sebenarnya 20 bed. Semenjak terjadi KLB Merapi disediakan 10 bed ekstra di selasar ruangan. Alhamdulillah pasien tenang hingga tengah malam dan kami pun kembali ke asrama pukul 01.00 WIB

Asnat and siti it’s ur time…..

Next ……à

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar